Header Ads

Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2

new-poster-harry-potter-and-the-deathly-hallows-part-2

Akhirya usai sudah

setelah hampir satu dekade semua perjalan penyihir muda berakhir.  Itulah yang ada di benakku kelar menonton film Harry Potter yang terakhir ini. Ada rasa haru yang berkecamuk di dada ketika melihat ending credit mulai bergulir. Tak terasa bahwa film ini berjalan seiring dengan tumbuh dewasa para remaja dunia.

Film kedua ini melanjutkan kisah dari film pertamanya. Harry, Ron, dan Hermione memutuskan untuk pergi ke bank Gringgots guna mencari satu lagi Horcrux milik Voldemort. Setelah upaya mereka nyaris gagal, trio tersebut mampu menemukan Horcrux dan kembali ke Hogwarts. Hogwarts kali ini bukanlah tempat yang hangat seperti dulu lagi. Para dementor menanti di sekeliling sementara Voldemort dan pengikut-pengikutnya siap untuk menyerang Hogwarts guna mengambil balik Harry. Celakanya Harry belum menemukan semua Horcrux yang tersisa! Masih cukupkah waktunya? Di saat yang tergelap, terkadang seorang harus melakukan pengorbanan terbesar…

Saya puas sekali dengan film ini. David Yates menebus dosanya menghilangkan battle di film keenam dalam film ini. Saya sebelumnya takut kalau Yates tidak becus menggarap adegan aksi karena pertempuran para penyihir di film kelima terlalu chaotic untuk menghiburku. Di sini gaya sinematografi Yates banyak berubah; pertarungan sihir dishoot bergantian dari jarak jauh maupun jarak dekat untuk menghadirkan kesan seru dan menegangkan. Penyerangan Hogwarts oleh abdi kegelapan Voldemort menjadi salah satu rentetan adegan aksi paling berkesan di tahun ini, melebihi bahkan pertempuran brutal Autobots dan Decepticons di Chicago dalam Transformers: Dark of the Moon.

Ada satu alasan kenapa pertarungan-pertarungan di Harry Potter ini jauh lebih berkesan dan itu adalah karena kita mengenal setiap karakternya. Franchise ini memiliki deretan casting paling konsisten selama sepuluh tahun terakhir hanya mengganti sosok Dumbledore pada Michael Gambon, kita melihat aktor-aktor cilik itu tumbuh bersama kita sehingga setiap kematian mereka terasa menyakitkan dan setiap kemenangan mereka terasa memuaskan. Pada sentral cerita Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson membuktikan bagaimana mereka sudah sangat – sangat menjiwai peran mereka. Walaupun puluhan tahun nanti film ini mungkin direboot, bagiku trio ini akan selamanya menjadi Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger sejati.

Diantara begitu banyak cast saya benar – benar salut kepada Alan Rickman sebagai Severus Snape. Sosok guru potion yang bisa dibilang karakter paling menjengkelkan dalam film ini merupakan sosok yang mampu tampil total menghidupkan semua adegan-adegan yang diberikan kepadanya. Ketika ia merasa sakit, akupun seakan bisa merasakan kesakitannya, dan itu adalah pencapaian tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang aktor: membuat penonton berempati sepenuhnya kepadanya.

Dan Pada akhirnya semua telah berkahir. meskipun banyak yang mencela film ini karena tidak seperti digmbarkan oleh novelnya. tapi tetap saja banyak yang mencintai franchise ini. dan gue bilang ini adalah film yang luar biasa dan kita tidak akan melupakan bahwa ini adalah film yang mengiringi kehidupan para remaja.  dan harus diakui ini adalah film penyihir paling terkenal di dunia. wingardium leviosa

Score: 90

Movie Details
Director: David Yates
Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Alan Rickman
Running Time: 130 Minutes

Tidak ada komentar:

Terima kasih udah memberi komentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.